all

 1. KEDATANGAN 3 CECUNGUK


Pak Bora, seorang pegawai di dinas pemerintahan, tampak sedang berbelanja di sebuah minimarket kecil yang sudah sering dikunjunginya selama setahun ini. Peralatan mandi, makanan kecil, minuman dingin dan parfum kesukaannya sudah menjejali troli belanja.

Setiap 2 minggu sekali, ia selalu mengunjungi minimarket milik Pak Jodi dan Bu Jodi itu, pasangan suami istri yang sudah tua.

Di depan Pak Jodi yang sedang sibuk menghitung harga dari barang belanjaannya, staf pegawai pemerintahan level menengah itu bertanya, "Pak, siapa gerangan orang-orang di luar itu, gelagatnya sungguh mencurigakan."

Pak Jodi menengok keluar, dahinya mengernyit, agak lama Pak Jodi mengamati orang-orang misterius yang sudah ada sejak Pak Bora memasuki minimarketnya, lalu berkata, "Kurang tahu Pak... saya belum pernah melihat mereka."

Pak Bora kembali memandangi mereka, salah satu dari 3 lelaki misterius itu melotot dengan sangat tajam.

Pak Jodi berucap, "Hati-hati Pak."

Pak Bora yang sering menghambur-hamburkan uang untuk kepentingan diri sendiri itu, memiliki seorang istri yang bernama Mariska.
5 tahun tidak dikaruniai anak, ia sempat mengangkat anak perempuan kembar dari kakak Mariska, bernama Nurika dan Hestika.

Kakak Mariska meninggal dunia setelah setahun diceraikan suaminya.

Kedua anak kembar itu kini telah hidup 10 tahun bersama keluarga Pak Bora. Namun, baru 1 tahun mereka mengangkat Nurika dan Hestika menjadi anak "kandung", Mariska melahirkan anak... yang juga kembar, dua-duanya laki-laki. Bernama Donny dan Daniel.

Pak Bora boros, sebulan sekali dia main perempuan, atau menyewa wts di kota lain. Hal ini sama sekali tidak diketahui Mariska, selama lebih dari 3 tahun... bahwa Pak Bora adalah suami yang cukup maniak terhadap perempuan.

Pak Bora bersiap untuk keluar dari minimarket milik Pak Jodi, walau apa yang akan terjadi, mau tidak mau ia harus melewati orang-orang misterius yang sedang berdiri berderet, dengan tampang sangat kusam, sepertinya mereka jarang mandi.

Di daerah sekitar kediaman Pak Jodi, suasana relatif sepi... masih banyak pesawahan dan tanah kosong yang menghiasi pinggir jalan raya.

"Hati-hati Pak." kata Bu Jodi dari pojok ruangan, ia selalu duduk di kursi belakang, rupanya kursi kayu dengan alas busa itu sudah menjadi tempat favoritnya.

"Ia Bu, terima kasih." ucap Pak Bora, tersenyum... namun tampak pucat mukanya.

"Bapak langsung saja keluar perlahan dan sopan, tidak usah tengok kanan kiri... masuk ke mobil dan pergi dari sini." Pak Jodi memberikan saran untuk menciptakan ruang kenyamanan batin kepada suami Mariska tersebut, yang sepertinya sudah tampak tegang dan ketakutan.

Pak Bora sejenak memandang Pak Jodi dengan penuh rasa pasrah, kekhawatiran membuatnya ingin mendapatkan dukungan dari sesama manusia, agar merasa tertemani.

Lalu kembali Bu Jodi dipandangnya pula, ia ingin... dikasihi dan diibakan.

Sekali lagi, mungkin untuk yang terakhir kalinya ia menoleh ke Pak Jodi, dengan mata sayu, takut akan keselamatan jiwanya. Apalagi selama ini ia banyak sekali berbuat dosa, terutama seringnya menyewa perempuan nakal dan membiarkan orang tuanya berbuat kasar kepada istri serta kepada kedua anak angkatnya, yaitu si kembar Nurika dan Hestika.

Pak Jodi menganggukan kepala.

Pak Bora mengangkat kantong plastik yang penuh belanjaan itu, dan bergegas pergi keluar minimarket.

Belum sempat membuka pintu mobil, seorang lelaki yang bermuka bringasan dan kusam, salah satu dari komplotan pria misterius itu, memegang tangan kiri Pak Bora.

Pak Bora mengibaskan tangannya, dan kunci mobil yang dipegang terjatuh.

Pak Jodi melihat keluar ruangan dari balik jendela, ia merasa... mungkin akan terjadi perampokan. Atau tepatnya pencurian mobil.

Ia memanggil istrinya pelan, "Sini..." katanya.
Bu Jodi pun menonton aksi yang cukup menegangkan itu...

"Ada apa Mas?" tanya Pak Bora kepada orang tadi, sembari memungut kunci mobil.

Sementara yang lain, dengan cepat menginjak tangan yang hampir menyentuh kunci mobil. Ya, tangan Pak Bora diinjak.

Ketiganya tertawa terbahak-bahak... Pak Bora merendahkan tubuhnya, lalu jongkok.

Elang, yang merupakan nama pemimpin ketiga lelaki itu, perlahan mengangkat kaki dan menginjakannya ke punggung Pak Bora.

"Hei, apa-apaan ini. Apa salah saya?" Pak Bora berkata lirih setengah berteriak, namun injakan kaki Elang semakin menekan. Kembali ketiganya terahak-bahak, dengan mulut menganga-nganga.

Bau mulutnya menyeruak. Mulut mereka mengeluarkan bau busuk yang teramat sangat.

Bak orang tolol dan psikopat, ketiga lelaki kusam yang bernama Elang, Kris dan Priyo itu, jarang sekali berbicara. Hanya tertawa dan tertawa saja.

"Bedebah, aku tidak mengenal kalian, kenapa aku diperbuat begini?" kembali Pak Bora berucap, memekik, kali ini suaranya keras, walaupun sebenarnya sangat ketakutan.

Elang tetap menginjak punggung Pak Bora, Kris tetap menginjak tangannya.

Muka Pak Jodi dan Bu Jodi menegang, mereka ketakutan. Takut terjadi peristiwa yang tidak-tidak, sehingga keselamatan nyawa mereka juga dikhawatirkan terancam. Keduanya yang sudah tua renta itu, tidak berani keluar dan menengahi peristiwa pertikaian, pelecehan dan penyiksaan tersebut.

Pak Bora memekik kesakitan saat Elang menginjak-injak punggungnya berkali-kali, sepatu Elang mirip sepatu tentara yang alasnya sungguh berat dan keras.

Bau mulut yang sudah sangat busuk itu pun kembali keluar, mencemari udara sekitar beranda minimarket, ketiga lelaki psikopat itu tertawa, dengan mulut dibuka lebar selebar-lebarnya.

Kali ini Elang berbicara untuk pertama kalinya, setelah berlagak seperti monyet, yaitu hanya tergelak saja dan memonyongkan mulutnya tanpa mengeluarkan 1 kata pun.

"Kau jangan berlagak Pak, jangan belagu. Kau selalu belagu selama ini, makanya kita semua perlakukan seperti anjing begini. Huaaaaaahahahahahahahahahaha." ujar Elang diakhiri dengan mulut dibuka luas dan tertawa.

Hari yang naas untuk seorang pegawai pemerintah, cukup memilukan. Ia baru pulang dari kantor, menempuh perjalanan setengah jam, lalu singgah ke minimarket Pak Jodi.

Biasanya lancar-lancar saja, tidak pernah ada kejadian yang langka seperti ini. Dia akan melanjutkan perjalanan 1 jam lagi menuju rumahnya.

Tapi kini, ia dihadang oleh sesuatu yang busuk dan bau. Sudah bertahun-tahun Pak Bora melakukan kegiatan rutin yaitu pulang pergi ke kantor ke rumah, kantor-rumah, kantor - rumah, tanpa suatu tantangan dan ancaman.

Hari itu sungguh lain dari biasanya. Begitupun kalau dia pergi ke luar kota untuk mencari perempuan-perempuan liar tidak pernah dihadang oleh cecunguk-cecunguk macam orang-orang tengik di hari itu.

Elang memberikan isyarat kecil kepada Priyo, yang sedari tadi hanya berdiri, hanya tersenyum-senyum mirip "simpanse", senyumnya mirip simpanse.

Priyo lantas merogoh sesuatu dari balik saku bajunya yang kumal nan bau tahi itu, ya bajunya memang bau tahi, sepertinya tidak pernah dicuci selama 10 tahun.

Pak Bora memperhatikan gerakan tangan Priyo, ia tersentak kaget bukan kepalang, simpanse kunyuk itu ternyata mengambil korek gas.

Pak Jodi dan Bu Jodi terperangah... ketakutan, karena sesuatu yang sangat biadab dan amoral mungkin dan akan segera terjadi. Pak Bora, salah satu pelanggan setia di minimarketnya, mungkin akan dibakar hidup-hidup.

Pak Bora menangis sejadi-jadinya, ia berucap minta pengampunan kepada Elang dan kedua temannya. "Ampun ampun... saya minta maaf kalau ada salah-salah ucap atau salah sikap kepada kalian... ampuuuuuun..." =========================================================================================== Ketiga preman liar tersebut, sebenarnya tidak berniat sedikitpun untuk menggasak atau merampok mobil sedan awal tahun 2000-an milik Pak Bora, karena memang secara teknik tidak ada satu pun dari mereka yang becus mengendarai mobil.

Mereka hanya becus naik sepeda motor. Sepeda motor klasik, yang masuk kategori motor laki-laki.

Suaranya meraung-raung memekakan telinga... dengan asap knalpot menyeruak ke segala arah, bersatu dengan udara, dan mencemarinya.

Tidak ada niat dari mereka untuk mengembat mobil lelaki berusia 50 tahun itu, kenyataan bahwa apa yang kini terjadi, Elang dan kedua berandalannya hanya menyiksa, dan sebentar lagi mau membakar tubuhnya.

Elang mengedipkan mata kepada Priyo, dan "simpanse" bau pun tahu apa maksudnya.

Priyo melangkah mendekati Pak Bora yang masih jongkok, dengan punggung dan tangan diinjak. Sebentar lagi tubuh Pak Bora akan dibakar. "Ja... jangan... jangan... ja..ja..jangan..." ucap Pak Bora dengan penuh kegetiran.

Nuraninya kini hilang, lemah, lelah dan melayang entah ke mana. Mungkin melayang ke neraka. Kenyataan kini Pak Bora tengah berada dalam ancaman serius, setelah sekian lama ia lupa kepada Tuhan, sekarang baru ingat kepada yang menciptakan matahari, langit dan bumi.

Dalam hatinya, suami Mariska itu menyebut nama Tuhan dengan bergetar, tanpa tenaga dan pesimistik. Tidak tahu apakah Tuhan akan menolong dirinya. Jangankan dia, banyak para pejuang di medan perang pun mati  ditembak penjajah, padahal mereka mati dalam kebaikan.

Banyak orang-orang baik mati dibunuh oleh perampok, oleh siapapun yang berjiwa kriminal, bisa tewas tidak tertolong. Apalagi dirinya yang dipeluk banyak dosa.

Pak Bora mengalami setengah kematian dan setengah kehidupan, berada di pintu antara hidup dan mati. Dirinya kini lelah, lelah hati yang sangat dalam, lemah karsa dan wiwaha.

Priyo sudah tepat berada di dekatnya, dengan korek gas di tangan.

Pak Jodi bersiap untuk melapor ke panggilan darurat melalui telpon... ia khawatir Pak Bora yang menurutnya adalah pejabat berakhlak baik, mendapatkan bala bencana yang sangat tragis hari itu.

Sementara Bu Jodi, wanita tua yang berperawakan gemuk dan pendek, namun wajahnya masih cantik itu, berada di samping suaminya, merasakan kalut yang tiada tara. Ia lemas selemas-lemasnya... tidak percaya pada apa yang ada dalam penglihatannya.

"Ayo Pak... le... le...kas telpon panggilan darurat..." kata Bu Jodi pelan dan bergetar. Pak Jodi pun mengangkat gagang telpon kabel yang ada di meja minimarket, dan siap memijit tombol 3 angka.

Priyo telah menyalakan api, Pak Bora dibakar.

Ya... Pak Bora dibakar hidup-hidup. Ujung baju kemeja Pak Bora kini menyala, api tercipta... meliuk-liuk berwarna kuning dan kehitaman. Asap mengepul... berbaur ke udara dan bergerak seiring dengan arah angin yang bergerak pelan.

Pak Bora meronta... dalam keadaan masih terinjak manusia hewan dengan kaki-kaki kuat yang tidak mungkin bisa dilawan.

Makin lama nyala api semakin besar... Pak Bora mulai merasakan kesakitan akibat panasnya api yang membakar kulit perut. Meronta dan meronta...

Pak Bora berdendang dan melakukan tarian geliat kesakitan yang tidak teratur. Setan tertawa... gembira.... Karena Pak Bora, salah satu temannya, siap mati dan menemani mereka di neraka. Pak Bora akan mati dibunuh sesamanya. Dengan cara dibakar.

Kini Pak Bora mulai berteriak-teriak kesetanan... diiringi oleh tertawa 3 iblis yang terkekeh-kekeh.

Belum sempat Pak Jodi menekan tombol panggilan darurat, tiba-tiba ada seseorang yang menyemprot Pak Bora dengan air selang dari warung cafe atau lebih tepatnya coffee shop, di sebelah minimarket Pak Jodi.

Semburan air terus mengenai badan Pak Bora tiada henti. Air terus keluar... terus, terus dan terus... Pak Bora basah kuyup kayak anjing yang baru kecebur kolam, dan dia menangis seperti balita.

Semprotan air dihentikan...

Ketiga berandal menatap tajam seorang lelaki... ya seorang lelaki seusia Pak Bora. Tubuhnya pun sama tingginya, sekitar 1,75 m. Tidak gemuk dan tidak kurus.

Lelaki itu berkata pelan, "Jangan bermain api, karena nanti bisa terbakar sendiri."

Elang sontak memukul lelaki yang kelihatannya baik itu, namun berhasil digagalkan dengan tangkisan. Kini malah Elang yang berhasil dipelintir tangannya, ia merasakan ngilu yang tiada tara.

"Aaaaaaaaaaaaaakkkkkkkhhhh..... Haaaarrrgghhhhhh... jahanaaaaaammmm" teriak Elang kesakitan. Tangan kanannya memerah, mungkin sebentar lagi akan membengkap kebiruan. Elang dipeluk dari belakang dan lehernya dicekik oleh tangan si lelaki misterius itu. Elang gelagapan.

Priyo dan Kris, 2 teman Elang, hanya melongo melihat kejadian itu bak orang tolol... Ibarat monyet yang ditotok dengan totok sakti para pesilat jaman dahulu.

Hanya terdiam dengan pandangan penuh ketololoan.

Tiba-tiba tangan kiri si lelaki misterius mengeluarkan pistol. Tangan kanannya masih mendekap Elang.

Ia memutar-mutar senjata apinya. Diputar ke kanan-kiri-atas-bawah... seperti koboy di jaman western 1880-an. Sangat cekatan. Tubuhnya kuat sekali.

Pak Jodi kini terperangah... perasaan takutnya hilang total, menguap ke angkasa. Begitupun dengan istrinya... Bu Jodi, tersenyum gembira.

Mereka seakan tidak percaya akan ada hadirnya dewa penolong, dan mahir lagi mempraktekan atraksi yang memukau. Pak Jodi tidak mengenal lelaki itu, begitu pula Bu Jodi, sama sekali tidak tahu siapa dia.

Padahal lelaki berpakaian cukup rapi itu datang dari dalam coffee shop sebelah minimarket. Mungkin ia pembeli kopi... yang kebetulan menjadi saksi kejadian naas yang dialami Pak Bora.

Pistol ditodongkan ke muka Elang, tepat di pipi kiri. Kedua manusia hewan... Kris dan Priyo, ketakutan. Muka mereka mirip orang bego. Mirip tikus got...

"Pergi kalian..." kata si lelaki pelan, namun tegas. Sontak saja kedua cecodot itu langsung meloncat dan menunggangi sepeda motor masing-masing... dan dalam waktu singkat mereka lenyap lari kocar kacir. 

Elang yang masih dalam kekuasaan lelaki dengan rambut hitam, sedikit beruban itu... perlahan dilepaskan. Dan dengan cepat berlari ke arah sepeda motor, tangan kanannya dikepal-kepal karena masih dirasa sakit.

"Berhenti... berhenti di sana." ujar si lelaki sambil mengarahkan pistol ke tubuh berandalan tengik usia 25 tahun itu.

Elang tidak mempedulikannya, dan langsung menunggangi motor balap tuanya, untuk melarikan diri. Pak Bora memandang dengan mata melongo, mirip mata luwak yang tolol. "Kenapa dibiarkan pergi?" Pak Bora bertanya.

Lelaki misterius itu hanya tersenyum simpul... "Biar saja." katanya.

"Tapi Pak..." sergah Pak Bora yang tubuhnya basah kuyup, ya anda benar, mirip anjing baru kecebur dari kolam.

Lelaki itu membawa kembali selang air ke dalam, dan memposisikannya lagi ke tempat semula. Ia diam saja... tidak menggubris Pak Bora yang terus mengikuti dari belakang. Tas diambil dari kursi tempat duduknya di kafe tersebut, lalu membayar harga di kasir.

"Wah, hebat tadi Pak. Bapak polisi ya... atau tentara...?" tanya petugas kasir.

Pemilik kasir yang ditemani dengan 2 orang karyawatinya, terpukau melihat lelaki misterius itu.

Si lelaki terus saja tidak berkata apa-apa... hanya tersenyum manis, ditebar ke segala arah. Lalu keluar pergi meninggalkan kafe, berjalan menjauh menuju ke arah barat, menyusuri jalan sepi. Pak Bora tidak diam saja, ia langsung menyusul lelaki itu dengan mobilnya.

Tampak mereka berbincang-bincang sebentar, tak lama kemudian si lelaki pun membuka pintu mobil, dan masuk ke dalamnya.





2. HILANG

Pak Bora tiba di rumahnya jam 9 malam... biasanya ia tiba sesudah adzan maghrib berkumandang. Kali ini tidak. Di saat mobil masuk gerasi... tiba-tiba muncul Bu Iva, ibunya Pak Bora.

Ia berteriak-teriak seperti kemasukan iblis. Entah iblis mana yang merasuki mulut Bu Iva yang juga dulunya adalah pegawai pemerintah, sehingga bisa berteriak-teriak seperti itu. "Boraaaaaaaaa!!!!!! Boraaaaaaaa!!!!!!!"

Bu Iva adalah mertua yang sangat cerewet bagi Mariska. Mariska dan 2 anak angkatnya yaitu Nurika dan Hestika, tiap hari menjadi korban keganasan mulut Bu Iva. Penderitaan bagi Mariska dan si kembar Nurika-Hestika, kalau melihat istri Pak Ahmad itu marah-marah dengan mulut menganga dan penuh nafsu angkara.

Pak Bora menatap tajam kepada ibu kandungnya yang mulutnya bergerak-gerak membuka dan menutup di dekat mobil. "Ada apa Bu?" Pak Bora keheranan, karena baru kali ini ia melihat tabiat ibunya seperti orang gila beneran.

"Itu Bora... anakmu diculik. Si... siapa dia!!!!" ucap Bu Iva penuh ketegangan, yang berubah menjadi marah, dikala ia melihat orang asing dalam mobil. Pak Bora segera keluar, "Hah? diculik????" Ia bergegas masuk rumah.

Lalu keluar lagi, "Pak.... Pak Alek.... ayo masuk Pak." Pak Alek mengangguk, memasang muka datar dan tenang, lalu memberi senyum kepada Bu Iva, dan masuk rumah. Bu Iva menatap tajam kepada lelaki yang dianggap asing itu, ia bergumam... "Tadi bencana datang... sekarang Bora diikuti iblis."

Tampak Mariska masih terisak dalam tangisan yang penuh haru, si kembar Donny dan Daniel diculik orang tidak dikenal tadi sore. Pak Bora duduk, merasa lelah... lemah... lemas... setelah mendengarnya.

Lelaki misterius yang bernama Pak Alek itu, diantar Pak Bora ke kamarnya. Kamar Pak Alek letaknya di dekat gerasi, terpisah dari rumah utama. Rumah yang cukup besar, sebagai pejabat tentu Pak Bora mampu membeli atau mendirikan rumah yang luxury, dengan gerasi dan halaman yang luas.

Namun, dari segi finansial, Pak Bora hanya memiliki uang pas-pasan. Tabungannya pun sedikit.

Ya, Pak Bora adalah seorang yang boros. Karena sering menyewa perempuan jalang di setiap minggunya. Sehingga tidaklah mengherankan, tabungannya sedikit... Rumah Bu Iva dan Pak Ahmad tepat berada di sebelah rumah anaknya itu.

Tiap hari kedua kakek-nenek ini selalu bermain dengan cucunya yaitu Donny dan Daniel, usia 4 tahun, yang kini diculik. Bu Iva selalu merecoki rumah tangga anaknya.

"Inilah begonya istrimu." kata Bu Iva dengan penuh kebencian, "Dia lengah, tidak becus mengurus anak kandungnya. Entah ada di mana cucuku Donny dan cucuku Daniel sekarang... Biar si jalang ini yang bertanggung jawab."

Bu Iva berpidato dengan mata tajam... penuh kebengisan. Mariska yang berada di pojok ruangan, menundukan kepala mendengar hal itu.

"Si Mariska bilang dia tidak mengenal orang-orang yang menculik cucuku. Aku tadi jam 6 sore ke sini... Mereka bertiga udah terikat dengan mulut disumpal kain. Semula penculik itu mau merampok duit, karena tidak ada duit... lalu anakmu dibawa kabur." Bu Iva menggambarkan kejadian tragis itu, masih dalam suasana benci kepada Mariska yang menurutnya adalah satu-satunya sebagai penanggung jawab.

Mariska merasakan penderitaan yang tiada tara, setelah mendengar omongan-omongan mertua terkutuknya itu.

Sementara Nurika dan Hestika, cucu angkat Bu Iva dan Pak Ahmad, berada di kamar. Menyepi, menjauhi dari amukan dan angkara murka nenek tirinya.

Pak Ahmad berada di rumahnya, dia sedang makan besar. Ya, dia makan daging ayam 2 buah, sayur sop ayam dan 4 tahu goreng. Disantap semuanya dengan penuh nafsu. Pak Ahmad ini juga adalah pensiunan pegawai pemerintah, seperti Bu Iva, cuma beda kedinasan. Hobinya makan dan kentut. Pak Ahmad bisa makan 5 kali sehari, dan kentut 20 kali sehari, dengan suara yang keras dan menjijikan.

Breeeeeeek...breeeeewwwwkkk... begitulah suara kentutnya. Pak Ahmad pun sering menekan menantu dan 2 cucu tirinya, tapi tidak secerewet Bu Iva. Asal dia bisa makan besar, lalu kentut... sudah... menjadi tenang. Biasanya dia makan besar, sambil menonton tv.

"Masih untung dia tidak digagahi para penculik itu." ujar Bu Iva, menunjuk ke Mariska yang masih dalam kondisi pasrah dan merasakan kesedihan yang tiada tara. Ya sedih karena anak kandungnya sudah lenyap, dan sedih karena keadaan dirinya yang dijadikan objek nafsu mertua.

Pak Bora hanya mengkerutkan dahi dan diam... hanya bisa begitu. Kayak pemikir yang sedang berpikir, tapi dalaman otaknya sebenarnya hanyalah... pepesan kosong belaka. Ia diam... tidak membela istrinya sedikitpun.

Pikirannya bercampur dengan perempuan-perempuan pemuas nafsu birahi, ya pastinya cinta kepada sang istri sudah terbelah... berkeping-keping. Pak Bora tidak puas, punya istri cantik, tapi ingin juga melahap liur lezat dan nikmatnya tubuh-tubuh wanita sewaan di luar kota sana.

Bu Iva memelototi Hestika yang keluar kamar, lapar dan ingin makan... namun karena ketakutan ia kembali masuk ke kamar. Mungkin besok pagi kalau berangkat ke sekolah, Hestika baru bisa makan. Di hari yang naas itu, ia makan nasi cuma pagi hari. Sorenya belum makan apa-apa. Begitu juga sama dengan Nurika, kakak kembarnya. Kakek nenek terkutuk.

"Kamu cari anakmu Bora, kemanapun dan sampai kapanpun, harus didapat kembali." kata Bu Iva tegas. "Dan lelaki tadi siapa sih dia itu? Kamu pulang di malam hari, di saat anakmu telah diculik, setan malah mengekori kamu. Siapa orang itu?"

Pak Bora menatap tajam ibunya. "Bu, dia itu sudah menolong saya. Saya tadi mau dibakar orang, dia yang menolong. Baju kemeja kantor terbakar, tadi dibuang di jalan. Hampir saja saya mati Bu."
Pak Bora menjelaskan peristiwa yang tadi dialaminya.

"Ya, ada yang tidak beres..." ucap Bu Iva, matanya kembali menajam. "Di saat bersamaan, anak kembarmu diculik. Pasti ada apa-apanya, ada rencana dari orang yang sama, alias perencana perbuatan setan yang terkutuk ini."

Mariska, yang sedari tadi duduk sendiri di pojok ruangan, disuruh Pak Bora mengantarkan beberapa kerat roti keju, dan segelas susu dingin, untuk Pak Alek yang berada di kamar.

Hari sudah cukup larut malam, kegelapan datang, dunia menjadi gelap. Dunia gelap. Keluarga Pak Bora masuk ke kamar masing-masing... beristirahat.

Hanya Mariska, Hestika dan Nurika... yang masih belum bisa memejamkan mata, belum bisa melelapkan diri ke dalam tidur. Mereka masih merasakan takut, sedih, kalut, ingin menangis dan mengadu kepada Tuhan yang memang sudah mengatur alam yang rusak ini. Bumi telah gagal membuat dunia ini seimbang, dunia telah gagal membuat bumi ini seimbang. TAHI.

Sementara itu Bu Iva, Pak Ahmad dan Pak Bora bisa tidur. Mereka terlelap karena kecapaian, capek berfikir negatif, capek menuduh yang tidak-tidak sehingga memunculkan kompleksitas tafsiran, yang sebenarnya tidak perlu.

Pak Ahmad terlelap sekali, bahkan mendengkur seperti babi, mendengus seperti bison liar... dia kekenyangan akan makanan yang tadi disantapnya. Duit rakyat dari gaji pensiunannya, dimakan dengan lahapnya.

Bu Iva pun sama, mendengkur....
Kebiasaan di saat muda yang selalu lancar-lancar saja, membuat dia mengalami pemanjaan kehidupan. Tidak terlatih untuk hidup keras... Ia adalah pensiunan aparat sipil negara, yang dulunya berkehidupan penuh kebahagiaan, jauh dari kenestapaan lahir maupun batin.

Keadaan Mariska, Nurika dan Hestika sangat menyedihkan, karena ke depan Bu Iva akan menyiksa batin, lebih keras dari kemarin-kemarin sebelum si bocah kembar 4 tahun diculik. Tidak tahu apa yang harus dilakukan, mereka hanya termenung dan termenung melihat tingkah polah Bu Iva dan suaminya.

Yang dilakukan pensiunan PNS tersebut tidak manusiawi. Ya, kerakusan dan nafsu dunia yang membuat kedua pasang suami istri tua itu bertindak bejat seperti itu. Tidak heran, adik Pak Bora, kini dipenjara karena menjadi pengedar narkoba.

Kedua orang tua tersebut, tidak becus mendidik anak. Padahal anaknya cuma 2 orang, yaitu Pak Bora dan adiknya. =========================================================================================================================

 3. TIDAK PERCAYA


Pukul 03.30 Mariska sudah bangun, ia selalu bangun sekitar jam segitu. Jauh sebelum adzan subuh berkumandang. Itulah hebatnya Mariska.

Ia langsung memasak nasi, memanaskan air, mencuci. Untuk memasak lauk-pauk, kadang ada pembantu yang datang jam 5.30. Pembantu yang sudah 3 tahun bekerja di keluarga Pak Bora ini, rumahnya cukup dekat, sehingga tidak perlu menginap. Namun datangnya tidak jelas, kadang dalam seminggu tidak muncul-muncul.

Pembantu yang aneh.

Pak Ahmad dan Bu Iva, yang rumahnya tepat di sebelah rumah anaknya itu, bangun jam 06.00... tidak mendirikan sholat. Padahal mereka semua berumatkan Nabi Muhammad SAW.

Setelah bangun, keduanya bergiliran buang hajat, buang air besar.

Pak Alek yang kebetulan kamarnya di bagian luar, tepatnya dekat gerasi mobil... sudah bangun ketika adzan berkumandang dan melakukan sholat. Lalu langsung membuat kopi sendiri, merokok 2 batang, rokoknya berjenis kretek. Rokok bagi para senior.

Pak Alek diajak Pak Bora untuk menjadi sopir pribadinya.

Sebelumnya, selama bertahun-tahun, Pak Bora menyetir sendiri mobil sedan tahun 2000-an nya.

Mariska tidak pernah naik mobil suaminya, karena dilarang oleh Bu Iva.

Sementara Nurika dan Hestika, ke sekolah cukup jalan kaki saja, karena jaraknya tidak begitu jauh.

Jam 7 tepat, Pak Ahmad menyantap bubur ayam 2 mangkuk langsung... mulutnya memoncong, membuka dan menutup saling bergantian, tampak sangat jelek. Urat-urat di wajahnya muncul seperti akar tumbuhan, bersamaan dengan keratan dan gigitan gigi-giginya yang besar-besar, putih kecoklatan.

Bubur ayam 2 mangkuk, disantap habis. Biasanya, kerupuk yang ada dalam plastik terpisah, dimakan setelah bubur ayam habis. "Krauk...krauk...krauk....krek....kruk...krek...kruk...." Begitu bunyi berisik yang keluar saat menggigit kerupuk-kerupuk kecil berwarna kuning.

Nafsu makan Pak Ahmad melebihi nafsu makan hewan buas sekalipun... kuda nil pun kalah.

Tidak heran dalam usianya yang 70 tahun lebih, kelihatan masih segar bugar. Semua makanan dia santap dan telan. Makanan lokal, luar negeri, dia makan... Dan dia juga mengkonsumsi makanan yang bernilai gizi tinggi dan mengandung obat-obatan.

Hewani dan nabati... dia santap. Itulah penyebab tubuhnya sehat walafiat.

Nurika dan Hestika sudah berangkat sekolah, mereka makan secukupnya... seadanya.

Tidak seperti kakek tirinya, yang sangat buas terhadap makanan.

Pak Bora bangun jam 06.00, ya seperti orang tua kandungnya. Biasanya setelah bangun, dia memanggil Mariska yang berada di dapur, untuk bersetubuh beberapa menit. Itulah Pak Bora, nafsu seks dan nafsu binatangnya tinggi.

Untuk keperluan memenuhi syahwatnya, di kantor pun ia sering menggerayangi tubuh teman wanitanya. Tapi kalau berhubungan badan di kantor, belum dilakukannya, dia berhubungan badan banyak dilakukan dengan wanita tuna susila di luar kota.

Tidak ada yang mengetahui Pak Bora ternyata sering berbuat begitu, termasuk orang tua kandung dan istrinya.

Tiba-tiba... "Mariskaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!! Mariskaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!! Ke siniiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii!!!!!" terdengar suara cempreng Bu Iva memanggil dari pintu belakang rumahnya,

Mariska pun dengan kerepotan sekali karena sedang mencuci, tergopoh-gopoh menemui mertua cerewetnya itu. "Ia Buuuuuu...." jawab Mariska lembut dan sopan.

"Ini bawa bubur ayam untuk suamimu..." kata Bu Iva singkat. "Ia Bu..." ucap Mariska, dan segera kembali masuk rumahnya. Mariska sendiri tidak diberi.

Mencuci baju-baju dilanjutkan kembali.

Bu Iva selalu ikut campur dalam keluarga anaknya. Mengontrol keadaan rumah, mendatangi saat pagi, siang, sore dan malam.

Ini sangat menekan batin Mariska.

"Alangkah senangnya kalau bisa hidup jauh dari mertua." Itu yang acap kali dipikirkan Mariska. Bagaimana tidak, batin rusak dikoyak oleh semburan-semburan pelecehan, penghinaan, penakanan dari mulut Bu Iva.

Walaupun sebenarnya tidak tahan dengan semua itu, Mariska tetap bersabar.

"Ah, paling kalaupun aku cerai dengan suami, masalah lain tetap saja muncul." Itu alasan kesabaran yang direnungkan tante dari Nurika dan Hestika, si kembar perempuan 10 tahun, yang hidup malang sepeninggal ibunya.

Bu Iva datang lagi... Di tangannya tampak ada beberapa handuk dan sarung, lalu berdiri tepat di depan Mariska yang sedang mencuci.

"Ini dicuci yang bersih ya..." ucapnya. "Apa kamu kenal dengan orang-orang yang kemarin menculik cucuku?" tanya Bu Iva, ketus.

Mariska memasukan handuk dan sarung tersebut ke ember, lalu mendongakan wajah ke arah mertuanya yang memakai daster bercorak daun-daun pepaya itu, lalu menjawab dengan sopan, "Tidak Bu, saya tidak kenal mereka satupun."

Bu Iva mengkerutkan dahi, "Hmmmmm...." bergumam dan sedikit mendengus. "Menurutmu kira-kira ada apa dengan hari kemarin itu... sungguh aneh kan? Apa kamu punya musuh?"

Mariska membatin... perasaannya terhenyak karena ditanya dengan tekanan seperti itu, "Tidak Bu, saya tidak punya musuh..."

Ia mencoba bersabar... dan terus bersabar. Menundukan kepala... lalu terus mencuci baju-baju kembali.

"Heran aku... sangat heran." ucap Bu Iva, sambil pergi begitu saja...

Mariska menatap mertua cerewetnya itu dari belakang, kemudian teringat akan tindakan bejatnya kepada Nurika, karena soal sepotong roti di ruang makan. Bu Iva menjadi gila karena hal kecil, entah itu nasi, segelas air, atau tahu dan tempe. Mariska takut, kedua keponakannya menjadi sangat lapar dalam kesehariannya, sehingga mereka tumbuh menjadi anak yang psikisnya tidak normal.  
Bu Iva pernah memukul Hestika sampai tangannya bengkak karena semangkuk bakso.
=====================================================================================================

 4. PESTA BUBUR AYAM

Si kembar Donny dan Daniel kini berada di rumah orang tua Adut, dan siap untuk dijual. Siapa orang tua Adut? Dan siapa Adut? Adakah mereka yang menculik si kembar?

Ya, Adut adalah otak di belakang terjadinya perampokan dan penculikan si kembar, sementara orang tuanya hanya menampung mereka.

Pak Bora sangat mengenal Adut, preman sekaligus juru parkir yang sehari-hari nongkrong di depan supermarket samping rumahnya.

Saat menculik si kembar, Adut memakai tutup kepala ala ninja, sehingga Mariska dan kedua keponakannya tidak mengenali.
Suaranya pun dirubah, menjadi melenguh.

Si kembar dibawa lari saat Daniel buang air besar, tahinya belepotan di tangan Adut. Sesuai apa yang dikatakan Mariska kepada Bu Iva, diantara keempat perampok, ada 1 orang yang memakai tutup kepala, dengan suara melenguh.

Namun memang, Bu Iva tidak mempercayai ucapan Mariska. Ia bersikukuh, bahwa menantunya itu yang menjadi otak penculikan.

Adut rencananya hanya akan merampok uang Mariska, namun karena tidak ada, terpaksa ia dan gerombolan tengiknya menculik si kembar 4 tahun itu.

Dan kini, keduanya berada di rumah orang tua Adut, di sebuah perkampungan yang jauh dari rumah Pak Bora. Mereka senang ada di sana, karena banyak ayam yang berkeliaran.

Walaupun tahi ayam banyak ditemui di halaman rumah, si kembar tampak enjoy, betah berada di rumah kedua kakek - nenek peyot itu.

Si kembar siap dijual, setelah hampir 1 minggu diculik.

Ate, itulah nama agen jual beli anak, yang akan membawa si kembar pergi jauh menemui pembelinya. Selain anak, Ate yang sudah cukup lama dikenal Adut, juga seorang penjual dan pengedar sabu-sabu. Adut menjadi pembeli loyal narkoba dari Ate, untuk kemudian diedarkan kembali.

Juru parkir laknat ini, sudah 2 tahun menjadi pengedar barang haram, tepat selama itu juga dia telah berkeliaran di depan supermarket samping rumah Pak Bora, menjadi tukang parkir kelas cecunguk.

Elang, Priyo dan Kris adalah preman juga, setan jalanan... setan beneran... Mereka menjadi calo penumpang bis di daerah lain. Pak Bora yang hampir mau dibakar, sama sekali tidak mengenali muka-muka yang... mirip binatang tersebut. Ketiganya kenal dekat dengan Adut sudah lama, 1 komplotan pengedar barang haram.

Sementara 3 orang lagi, yang menyatroni dan menculik si kembar, adalah Jeki, Timan dan Eten. Mereka adalah tukang parkir, tidak jauh dari tempat Elang beroperasi sebagai calo penumpang bis.

Sudah 2 tahun ini, ketujuh komplotan setan jalanan ini, menjadi setan jalanan. Dan kini, untuk pertama kalinya, mereka melakukan aksi tengik merampok dan menculik. Ya, untuk pertama kalinya.

Biasanya pekerjaan mereka jadi jukir / juru parkir, menjadi calo penumpang... yang hanya memenuhi dan menyesaki trotoar-trotoar jalan. Sampah yang tak berguna. TIDAK BERGUNA.

Si kembar akan dijual. Ya, pagi-pagi sekali Ate sudah membawa kedua anak Pak Bora dan Mariska itu, pergi jauh. Sekitar 100 km perjalanan ditempuh si kembar, dibawa memakai mobil sewaan, menuju seseorang yang rupanya cukup kaya raya. Mahar 10 juta cukup membuat puas Adut dan teman-temannya, melepas anak hasil usaha culiknya. =================================================================================

Sebelum membawa si kembar, Ate menemui Elang dan Kris terlebih dahulu, untuk memberikan bungkusan sabu-sabu pesanan Adut. Mereka bertemu di persimpangan jalan yang cukup sepi, maklum waktu itu masih pagi-pagi sekali sekitar pukul 06.00. Persimpangan yang jaraknya cukup jauh dari tempat Adut berada itu, menjadi saksi jual beli barang haram.

Sebenarnya, uang 10 juta dari hasil jual anak, sebagian besar dibelikan untuk sabu-sabu, jadi istilahnya dibarter... jual atau beli barter.

Sekitar 30 menit lamanya perjalanan Elang dan Kris untuk membawa sabu ke markas Adut cs.

Tempat tinggal orang tua Adut cukup jauh, mereka tinggal di area dekat pegunungan lokal. Banyak kebun dan sawah. Elang dan Kris agak malas sebenarnya untuk pergi ke persimpangan itu, apalagi waktunya pagi-pagi. Sabu berhasil dibawa Elang dan Kris, Adut pun ditelpon.

"Tuuuuuuuttttttt.....tutttttttttttt....." Begitulah bunyi yang didengar Elang dari hp nya, saat menghubungi Adut.

Dan tak perlu menunggu waktu lama, Adut menjawab panggilan, "Ya, haloooow..." katanya, suaranya nyaring, sangat tidak enak didengar.

"Sabu sudah kubawa Dut, gue siap menuju ke sana sekarang. Dan Si Ate, dia udah di jalan ke tempat buyer." kata Elang.

"Oke, bagus. Cepat ya ke sini, kutunggu..." Adut sumringah.

Pembicaraan melalui handphone diakhiri oleh keduanya. Adut segera menyuruh Timan membeli bubur ayam 7 bungkus. Segera mengadakan pesta bubur di pagi itu. Ya, di kontrakannya saat itu sudah berkumpul, Timan, Eten yang masih tidur, Priyo, dan Jeki.

Komplotan setan jalanan akan segera mengadakan pesta sabu ( sarapan bubur ) untuk merayakan terjualnya si kembar dan datangnya barang pesanan.

"Si anak cecunguk sudah hengkang rupanya... Si Bora pasti celingak-celinguk. Dia gak bakalan tahu kalau gue lah penculik... sang penculik." kata Adut.

"Broooot.....duttttt......brot..." Suara kentut Adut berbunyi keras sekali. Dia menyalakan rokoknya, lalu minum sedikit kopi susu yang tersedia di meja. Kotor sekali penampakan ruangan tamu di kontrakan si Adut ini, abu rokok bertebaran di mana-mana... di meja... di lantai. Gelas-gelas yang berisi kopi susu... berjejer tidak beraturan. Puntung-puntung rokok pun pastinya hadir di sana, bergelatakan di lantai... menambah jijiknya tempat.

Elang yang mengendarai motor, berboncengan dengan Kris... dikejutkan dengan sesuatu.

"Hah!!!! Muke gile Kris!!! Seru Elang, matanya melotot ke depan.

"Wuaduh.... jangkrik!!! Muter balik Lang!!!! Cepetan...!!!" kata Kris sambil menepuk-nepuk pundak Elang, mereka melihat sepasukan polisi tepat sekitar 8 meter di depan, sedang merazia SIM dan STNK.

Pagi-pagi sekitar jam 6, biasanya di daerah tersebut seminggu sekali suka ada operasi polisi. Hal ini tidak diketahui keduanya. Elang memutar balik sepeda motornya, dan itu diketahui oleh polisi.

Salah satu polisi mengejar.

"Celaka, bangsat!!!! Benar-benar cilaka... polisi ngejar kita." kata Elang. "Kris, cepetan buang sabu ke sungai.... cepetan Kris!!!! Gue takut nih, soalnya kagak bawa SIM dan STNK."

Tepat di samping jalan, memang ada sungai yang lumayan lebar. Elang terus menggas sepeda motor jadulnya... asap knalpot menyeruak, keluar. Kris segera membuang bungkusan sabu, ke sungai.

"Hih!!!! Bangsat!!!!" pekik Kris. Mereka disalip oleh polisi yang mengejar, dan berhenti.

Polisi dan keduanya, terlihat agak lama bercakap-cakap. Dan akhirnya... motor Elang ditahan.

Sementara itu di kontrakan Adut, yang sudah menjadi markas besar gerombolan "setan jalanan" ini, tampak Timan telah datang, dengan 7 bungkus bubur ayam yang masih panas. Diletakan di atas kursi.

"Kita pesta bubur... pesta sabu... sarapan bubur." kata Adut, ia segera mengambil 1 bungkusan bubur.

Eten yang dari tadi tidur, tiba-tiba terbangun... celingak-celinguk kayak orang tolol. "Waaaah... keren ini." ucapnya dan langsung menyambar jatahnya.

Timan datang dari dapur dengan 7 buah sendok makan di tangannya. Mereka memulai menyantap bubur ayam dengan penuh nafsu.

Tiba-tiba.... "Tulalilelot...tulalilelot...." suara hp Adut berbunyi.

Adut yang mulutnya tengah mengunyah bubur, menjawab panggilan, "Wualow..." katanya.

"Dut.... waduh celaka!!! Celaka!!!!" Rupanya Elang yang menelpon.

"Ada ape... ada apa Lang." Adut mulai mengernyitkan dahi.

"Gue kena razia polisi, motor ditahan!!!! Celakanya lagi... sabu gue buang ke sungai Karang Panjang." Elang melaporkan peristiwa tragis yang dialaminya.

"Bangsat!!!!" pekik Adut, hpnya langsung ditutup. "Sialan!!!"

Timan, Eten dan Jeki menatap Adut dengan termengo-mengo... melongo kayak bajing tolol yang nongol dari sarangnya. ============================================================================================================


================================================================================== Adut membanting bubur ke lantai... dan berserakanlah semuanya. Jeki, Timan dan Eten melotot... matanya membelalak. Dengan mulut setengah membuka dan menganga.

"Dengar baik-baik..." kata Adut, ia berdiri dengan tangan di pinggang. "Besok pagi kita akan merampok rumah Pak Ahmad, ya besok pagi."

"Jadi besok kita merampok Dut? Apa kita gak selidiki dulu keadaan dan situasi?? Apa gak takut dengan lelaki yang bawa pistol itu?" tanya Timan, sembari sesekali menjejalkan bubur ayamnya sedikit demi sedikit ke mulut penyoknya.

Ya, mulut Timan agak penyok ke samping, tukang parkir tengik itu memiliki bibir yang sama sekali tidak enak di pandang mata. Enek sekali kalau melihat mulut Timan, si tukang parkir tengik.

Adut memutar-mutarkan kepalanya yang agak besar. Ukuran kepalanya mirip kepala petinju negro amerika, besar dan agak hitam. Lehernya pun agak lebar. "Trek...krrrtek...trek...." Begitu bunyi tulang leher Adut. Emosinya meninggi. "Besok kita rampok mereka, alah paling itu pistol bohongan. Si Elang bilang pistol itu tidak pernah ditembakkan, cuma ditodong-todongkan aja ke sana ke mari... nakut-nakutin doang. Bener kan Yo?"

"Ya, paling pistol bohongan... Mana ada sih orang biasa punya pistol kayak polisi? Bohongan paling itu... palsu." kata Priyo yang minggu kemarin sempat berhadapan dengan Pak Alek, lelaki misterius yang dimaksud Timan.

Bubur ayam yang berserakan di lantai diinjak-injak tak beraturan oleh Adut, ia mengusek-useknya. "Sabu dibuang oleh Si Elang, karena ada razia polisi. Polisi bangsat. Mungkin di rumah Pak Ahmad ada harta kekayaan yang tersimpan... uang-uang yang tertumpuk rapi di sana. Hahahahahaha." Adut mencoba menghibur diri, ketawanya keluar.

"Waduh... gila. Sabu dibuang????" kata Priyo menyesalkan kejadian itu. Sementara 3 teman lainnya, duduk menyender ke belakang... melemaskan batin, karena tidak senang mendengar kabar buruk itu. Mereka menghela nafas kekesalan... kekesalan kepada Elang dan Kris, padahal mungkin bisa kabur dari kejaran polisi yang menurut mereka tengik itu.

"Motor Si Elang ditahan.. mereka jalan kaki ke sini... atau naik angkot kali." Ucap Adut menambahkan info buntut yang tentunya adalah info buruk tambahan. "Waduh...." kata Priyo lagi.

"Untuk itu, besok pagi kita beraksi. Aku tahu Si Bora jahanam tiap hari minggu pasti keluyuran... pulangnya malam. Dan kayaknya nih, si lelaki keparat itu ikut..." kata Adut.

Hampir 2 tahun malang melintang di dunia perparkiran dekat rumah Pak Bora, dia pasti tahu kebiasaan-kebiasaan lelaki pagawai negeri dan keluarganya itu. "Dan satu lagi... ini cukup penting. Kayaknya besok pagi... Si Mariska akan menghadiri rapat akbar antara guru dan orang tua siswa di sekolahnya si Nurika dan si Hestika yang manis... Ahahahahahahaha. Si Mariska akan pergi besok pagi. Yakin. Soalnya aku dengar info ini dari istri gue, katanya akan ada rapat besar di sekolah SD Jati Bangsa I dan II."

Adut mulai bergembira lagi, ia yakin akan rencana besarnya akan menghasilkan banyak uang. Setelah gagal merampok harta Pak Bora dan Mariska, Adut dan sesama setan jalanannya kini mengarahkan target atau sasaran aksi malingnya ke arah kanan sedikit, yaitu rumah bapaknya Pak Bora, Pak Ahmad.

==============================================================


5. ULANG TAHUN SI KEMBAR

Di ruang makan rumah Pak Bora, tampak Bu Iva menempeleng muka Mariska. Keduanya berdiri berhadapan. Menempeleng dan meludahi mukanya. Mulut Mariska dimoncongkan oleh tangan kanan Bu Iva, air liur Bu Iva meleleh di sekitar bibir Mariska.

"Menantu bejat, kamu telah lalai, membiarkan si Donny dan si Daniel diculik!!!! Siapa mereka!!!! Adakah hubungannya dengan kamu!!!!" Bu Iva berteriak-teriak seperti kemasukan jin keturunan iblis. Ia masih memoncongkan mulut Mariska... lalu melepaskannya dan menempeleng lagi.

Mariska mundur ke belakang, melap mulut dengan tangannya, ia mencium air liur Bu Iva sangat bau.

Tampak hadir di sana ada Pak Alek... semuanya ada, termasuk Nurika dan Hestika yang berdiri di pojok ruangan.

Rupanya ini adalah acara kumpul-kumpul, merayakan 4 tahun kelahiran Donny dan Daniel. Keduanya berulang tahun tepat setelah seminggu diculik.

Pak Alek merasakan iba yang begitu mendalam kepada istri Pak Bora itu, menurutnya Mariska tidak bersalah. Pak Alek menatap tajam Bu Iva yang menatap tajam Mariska.

Sementara Pak Ahmad yang sedang duduk di meja makan, tampak tengah makan nasi telur dadarnya... perlahan. Ya, sesekali dia memasukan nasi telurnya ke mulut yang agak tebal itu. Mengunyah lalu menelannya. Sambil menyaksikan amarah... angkara murka istrinya kepada Mariska.

Seperti biasa, Pak Bora hanya duduk-duduk saja, memasang muka datar dan dingin. Ia menatap ke depan... tidak ke bawah tidak ke atas... mukanya tampak bego dan tolol.

"Tidak Bu, saya tidak mengenal mereka... berkali-kali sudah saya katakan Bu. Saya tidak tahu mereka." ujar Mariska dengan badan agak menunduk, menjaga kesopanan dan kerendahan hati di depan mertuanya yang kemasukan setan.

"Bohong kamu." ucap Bu Iva, menunjuk sambil melotot.

"Benar Bu, sungguh..." Mariska menjawab dengan getir.

Pak Alek menyimpan rasa marah yang meninggi kepada Bu Iva.

Ia juga marah kepada Pak Bora dan Pak Ahmad, pensiunan bau tengik yang doyan memangsa makanan-makanan ini. Pak Alek, yang saat itu memakai baju kemeja biasa, tanpa jaket tebal agak panjang ke bawah yang biasa dipakainya sehari-hari, datang ke ruangan itu untuk makan bersama... Namun akhirnya malah kacau balau begini... Bu Iva marah...

Pak Ahmad masih terus menjejalkan nasi telur ke mulutnya... mengunyah...mengunyah dengan gaya yang sangat memuakan. Dia mengunyah seakan gerakan mulutnya itu ingin ditempeleng orang, dipukul dengan kayu..."Buk!!!Buk!!!" biar mulutnya penyok.

Tak berapa lama, satu-persatu meninggalkan ruangan. Bu Iva berjalan melenggang ke rumahnya lewat pintu belakang... dia langsung menuju kamar, berbaring dan beristirahat setelah nafsu kemurkaanya dimuncratkan kepada Mariska yang dibencinya.

Sementara Pak Ahmad, dia berdiri... minum... lalu menuju kamar mandi di rumahnya... untuk buang air besar.

Di ruang makan kini hanya ada Mariska... dan Pak Bora, yang ternyata tak berapa lama kemudian masuk ke kamar.

Mariska merenung... dahinya mengkerut, menunjukan kesedihan yang sangat dalam... air mata menetes perlahan di sela-sela kedua pipinya...

Sementara Pak Alek membaringkan diri di kamarnya, dekat gerasi. Ia berpikir keras akan sebuah rencana... yaitu membawa Mariska pergi, membawa Mariska dan kedua keponakan kembarnya, pergi dari rumah itu. Namun rencana itu akhirnya dibuang jauh-jauh... rasanya tolol kalau dirinya tiba-tiba membawa kabur Mariska. Pak Alek hanya merasa kasihan... Ia membenci sekali kepada Bu Iva dan Pak Ahmad, mereka sama sekali tidak mempercayai menantu salehahnya itu. =====================================


==========================================================================
 

Pak Alek menemui Mariska pada sore harinya, dengan mengenakan jaket tebal atau mantel agak panjang ke bawah, seperti biasanya. 2 pistol dimasukan ke saku bagian dalam.

Pintu menuju ruang belakang tidak ditutup, dan dibuka perlahan. 

Seorang wanita dewasa yang tampak cantik tanpa cacat.
Bentuk tubuhnya ramping, punggungnya masih tegak.


Tapi di wajahnya, Pak Alek melihat sebuah kerutan yang memaknakan putus asa dan seperti sedang merenung - mengingatkan pada burung nuri dalam sangkar, terbelenggu. 
Mariska sedang menyetrika baju, kaget dengan kehadiran Pak Alek, yang tiba-tiba sudah berada di sampingnya.

"Pak Alek... aduh... kirain siapa..." kata Mariska, dengan nada bicara yang sopan... sambil tersenyum, suaranya parau... dan matanya sayu, membengkak sedikit... setelah seharian menangis, dilanda duka nestapa yang mendalam.

Pak Alek sangat sedih...
terharu memandang menantu Bu Iva ini.

"Mariska, maaf saya mengganggu kamu..." kata Pak Alek, ia mencoba mendekat kepada perempuan berbobot badan 50kg dan tinggi sekitar 167 cm ini.

Pak Alek menatapnya dari mulai ujung kaki ke ujung kepala... perlahan dan detil sekali.
"Eee... eeee... tidak apa-apa Pak, ada apa ya Pak?" ujar Mariska... ia mencabut kabel setrika dari stop kontak.

"Nggak apa-apa kok Mar, cuma penasaran aja dengan kejadian tadi pagi. Apa Bu Iva seperti itu ya kesehariannya kepada kamu?" tanya Pak Alek.

Mariska tersenyum simpul... ada sedikit tekanan di mulutnya.
"Nggak Pak... kayaknya dia sedang emosi saja... makanya jadi seperti itu." ujarnya, Mariska merupakan seorang perempuan yang sangat baik. Tidak serta merta meluapkan emosinya membeberkan kekejaman Bu Iva, namun malah memberikan kesan positif tentang mertua bengisnya itu.

"Tidak, saya pikir Bu Iva itu orang yang tidak baik. Saya bisa melihat dari mimik-mimik wajahnya." ucap Pak Alek. "Kamu perempuan baik Mar, tidak sepantasnya berada di tempat seperti ini."

Mariska mencoba mengelak, "Ah tidak Pak... Itu udah biasa... di rumah tangga pasti ada ini itunya." Kembali menunjukan sikap yang positif.

"Saya melihat Nurika dan Hestika... mereka agak lain kalau bertemu dengan Bu Iva. Tampak ketakutan sekali. Ada yang aneh ini..." kata Pak Alek.

"Itu cuma tafsiran bapak saja, lalu mengenai bapak sendiri bagaimana. Saya pernah melihat bapak memain-mainkan pistol di kamar. Sebenarnya saya agak takut, cuma... siapa sebenarnya bapak ini? Polisi kah? atau Tentara?" tanya Mariska.

Pak Alek tersenyum... agak memundurkan posisi duduknya, "Apa penting itu Mariska? Apa perlu kamu tahu siapa saya sebenarnya..."

Mariska menghela nafas perlahan, "Ya penting Pak, soalnya saya penasaran..."

"Saya dulu pernah di kepolisian. Ya, saya polisi. Tapi itu dulu. Sekarang sudah mengundurkan diri." Pak Alek menjelaskan siapa dirinya pada masa lalu.

"Wah... Kenapa mengundurkan diri?" tanya Mariska.

"Saya gak tahan, di kantor banyak sekali korupsi. Ada ini ada itu, ada rekening gendut, ada suap-suapan... dan banyak lagi yang lainnya." ujar Pak Alek.

"Bapak orang baik." ucap Mariska, tersenyum manis.
"Pak, saya bikinin kopi ya?"

Pak Alek segera menolaknya, dan berdiri. "Tidak Mariska, tidak usah. Saya akan pergi sekarang, mau cuci mobil. Kamu harus hati-hati. Jangan mau dimarahi mertua, ini kan rumahmu juga. Tidak pantas mertua menyatroni rumah tangga anaknya, apalagi ini sangat tidak wajar. Oke Mar? Saya tinggal dulu." kata Pak Alek, menutup pembicaraan yang cukup serius itu.

"Ia Pak, terima kasih." jawab Mariska, membungkuk dan menghormat.

Ini semua tentang rasa sakit. 
Aku berharap bisa menjadi aku
Dan kemudian seperti yang akan kau lihat.
Betapa lelahnya aku.
 

Kau bisa menatapku.
Sementara dia melecehkanku
Dan mengambil hidupku

Mengapa aku harus mengeluh?
Setidaknya ini bisa membantu rasa sakitku
 

Ini semua tentang rasa sakit.

=====================================================

====


6. YANG KEDUA
 
Ya memang benar apa yang dikatakan Adut, hari minggu itu Mariska pergi ke sekolah kedua keponakannya, jam 06.30, untuk menghadiri rapat orang tua siswa kelas 4, 5 dan 6, dengan guru-guru SD.

Sementara Pak Bora sudah pergi sejak pukul 05.00, karena harus menyesuaikan dengan jadwal kereta api. Ia akan berpesta, bersenang-senang sampai nanti malam.

Pak Alek hanya mengantar ke stasiun, kemudian menservis mobil dan beli bensin, lalu balik lagi ke rumah.

Di rumah Pak Bora, kini hanya ada Nurika dan Hestika. Keduanya sudah bangun.

Pada pagi ini, Adut dan 6 temannya sesama setan jalanan, bersiap untuk merampok... di rumah Bu Iva dan Pak Ahmad.

Timan dan Jeki sudah mendatangi lokasi sejak jam 4 pagi. Mereka nongkrong di bangku kosong sebuah bekas warung tenda. Suasana sangat sepi.

Dan kini waktu sudah menunjukan pukul tujuh kurang seperempat.

"Bora, Mariska dan si lelaki sudah keluar..." kata Timan, dalam pembicaraan dengan Adut lewat hp-nya. "Oke, siap." ucap Adut.

Tak lama kemudian gerombolan terasi tengik ini pun datang... 7 sepeda motor yang sudah dicopot plat nomornya, dan diberi gambar-gambar tempel baru... disimpan berjejer di depan supermarket samping rumah Pak Bora.

Seperti biasa, Adut memakai penutup muka, hanya mata dan moncong mulut saja yang kelihatan. Ini adalah hari eksekusi.

Kesempatan emas yang terbuka... yang menganga lebar ini, tidak disia-siakan oleh si komplotan cecunguk.

Jalan raya sangat sepi, toko-toko masih tutup. Hampir semua orang masih terlelap tidur.

Timan berjalan ke depan pintu pagar rumah Bu Iva. Celingak-celinguk... melihat ke segala arah... ternyata kosong... sepi sekali.

Ia mengangkat tangan memberi kode...

Tanpa ragu lagi, ketujuh lelaki bangsat ini yang terdiri dari juru parkir tengik dan calo bus jahanam, meloncat masuk ke dalam pekarangan rumah Bu Iva. Bajing loncat berlompatan.

Pagar rumah Bu Iva tidak setinggi pagar rumah Pak Bora, sehingga dengan mudah mereka bisa masuk ke dalam dengan gaya kancil.

Pintu pun dibuka perlahan, tidak terkunci. Pintu neraka ini memberikan izin kepada mereka untuk masuk ke dalamnya.

Tidak ada siapa-siapa di dalam.

Satu persatu... Adut, Elang, Timan, Kris, Jeki, Priyo dan Eten... masuk dengan sangat leluasa. Ruang tamu cukup berantakan, ada 1 mangkuk sisa mie goreng yang masih tergeletak di atas meja.

Mereka berjalan... semakin masuk ke dalam... Ada 2 kamar yang saling berhadapan, sehingga jumlah total kamar tidur ada 4 buah.

Di sana tidak ditemukan manusia, kedua pasangan tua tidak berada di kamar.

Lalu masuk ke ruang TV, tampak siaran liputan pagi dimana presenter tepat menutup acaranya.

Lalu masuk ke ruang makan, Adut berhenti. Menghentikan langkahnya. Semua berbaris ke belakang...

Tampak Pak Ahmad sedang makan besar... Ia makan nasi uduk dan 2 telur goreng.

Dengan lahapnya lelaki tua ayahanda dari Pak Bora itu, menyantap nasi uduk dan telur ceplok yang dilumuri kecap manis, sangat nikmat sekali.

Dia melupakan rakyat jelata yang mungkin sebagian besar pagi itu belum makan. Bahkan ada orang miskin, para pemulung, pengemis, anak-anak yatin, yang pagi itu dilanda kelaparan, karena dari kemarin siang belum makan.

Pak Ahmad, pensiunan pegawai pemerintah, lupa semuanya. Dia menyantap uang rakyat... dengan mulut yang menganga. Dikunyah, dikerat, dihela, digigit,... kemudian ditelan sekaligus.

Adut, selama 2 menit... memperhatikan gerakan mulut Pak Ahmad. Sangat menyebalkan sekali.

Adut berlari mendekati Pak Ahmad, lalu membekam mulutnya yang masih mengunyah nasi, dibekam dengan lap pel yang kebetulan ada di dekat ruang makan tersebut.

Lap pel ditekan-tekankan ke mulut dan muka Pak Ahmad.

Pensiunan tua itu meronta... berusaha berteriak namun tidak kuasa.

Kemudian diseret perlahan menuju ruang tamu.

7 lelaki bangsat itu memukul bagian kepala, bergantian. Sesekali dengan keras agar tidak meronta dan tidak berteriak.

Ancaman dengan pisau belati yang besar, dilakukan oleh Kris. Ia tempelkan belati di sekitar mata Pak Ahmad.

Kemudian lelaki tua itu diam... pasrah... dan melemah. Diikat kuat dengan tali tambang yang sudah dipersiapkan Kris dan Eten.

Adut, Elang, Jeki, Priyo dan Timan bergerak dengan pelan... masuk lebih ke dalam, mencari Bu Iva yang siap dijadikan mangsa kedua.

Di dapur yang berantakan, tidak ditemukan. Piring-piring sisa tempat makan, masih kotor belum dicuci. Rupanya Pak Ahmad selalu makan besar... sering makan... Itu yang ada dalam pikiran Adut, terbukti dengan banyaknya piring kotor yang tertumpuk.

Di mana gerangan Bu Iva berada? Kelima setan yang sehari-harinya bergulat di trotoar jalanan, terus melacak, mengendus, menyusuri ruang-ruang di rumah itu.

Elang berjalan melewati kamar mandi di ruang paling belakang yang sedikit terbuka. Ia tidak memperhatikan kamar mandi tersebut.

Bu Iva berada di dalamnya, dia sedang buang air besar...
Dan terkejut melihat Elang yang berjalan menuju pintu keluar arah rumah Pak Bora. Pintu keluar di bagian belakang ini adalah satu-satunya jalan ke pintu samping rumah anaknya...

Bu Iva yang sedang jongkok itu langsung berdiri dan menutup pintu kamar mandi dengan pelan... tangannya gemetar.

Pintu pun tertutup, namun tiba-tiba... Priyo dengan cepat mendorong pintu tersebut...

Bu Iva terhenyak... langsung berteriak, "Aaaa..." Mulutnya menganga lebar.

Priyo mendekap Bu Iva dan menutup mulutnya dengan tangan... Bu Iva meronta-ronta... meliuk-liuk... dalam pelukan Priyo dari belakang. Mulutnya berusaha berteriak...

Elang membalikan badan dan membuka baju kaosnya... lalu dibekapkan ke mulut mertua Mariska itu.

Bau keringat busuk dari baju Elang, cukup membuat Bu Iva yang belum sempat cebok itu berhenti mengerang. Namun tubuhnya tetap bergerak ke depan - belakang dan ke samping. Bu Iva tidak mau diam.

Bau sisa tahi dari dalam bagian bawah baju daster Bu Iva, menyeruak... tercium oleh hidung. Bau sekali.

Kini Elang yang mendekap tubuh peyot Bu Iva, dengan mulut dibekap kaos bau hewan nya.
Kaos Elang bau ayam... rupanya jarang sekali dicuci.

Bu Iva terus meronta... Sementara itu Pak Ahmad masih dalam penguasaan Kris dan Eten. Berada di ruang tamu, dengan tangan dan kaki terikat, mulut disumpal dengan lap pel, tampak terbaring di lantai... tidak berkutik dan kelelahan.

Lelah hati, lemah jiwa.

Adut berjalan melenggang, melihat lebih dekat bagaimana Bu Iva didekap dan dibekap oleh Elang.

Ia tertawa lebar namun tidak bersuara... Timan mengikuti dari belakang dan mulai menaruh pisau belati di pipi Bu Iva. Bu Iva terdiam... matanya melotot melirik ke belati dengan gagang berwarna coklat itu.

Adut, Jeki dan Priyo mulai bertelusur... bergerak untuk mencari harta, uang dan benda-benda berharga di seluruh area rumah. Beraksi dengan sangat leluasa. ========================================================

======================================================================== Keempat setan yang selalu nongkrong di jalanan itu mengobrak-abrik rumah pensiunan pegawai, sampai setengah jam lamanya. Tidak banyak yang ditemukan, hanya uang sebesar 200 ribu, dan gelang Bu Iva yang harganya tidak seberapa. Adut membanting, mengacak-acak semua barang-barang... Keadaan rumah kini semrawut. Nurika dan Hestika yang mendengar ada suara-suara di rumah nenk tirinya tidak merasa curiga.

Mereka menganggap itu hanya ulah Bu Iva, yang gila nya kambuh. Adut mengambil belati yang dipegang Priyo, lalu menggoreskan sedikit ke pipi Bu Iva, seraya berkata... dengan suara dilenguhkan, agar tidak dicurigai. "Mana hartamu... Uang mana uang!!!"

Bu Iva megap-megap, cuma mengerang... masih dalam dekapan dan sumpalan baju di mulutnya, oleh Elang. "Seret Si tengik Ahmad ke sini, Ten!!" teriak Adut, kembali dengan gaya bicara seperti lenguhan anjing buduk.

Eten menyeret Pak Ahmad dari ruang tamu sampai ruang belakang. Diseret bagai sapi yang siap disembelih di hari Idul Adha. "Tunjukan Mad, di mana kau simpan uangmu!!!" kembali Adut membentak. Pak Ahmad menggeleng-geleng kepala... 7 x.

"Bangsat!!!!! Laknat!!!!" Adut marah, melenguh keras, kepala bapaknya Pak Bora itu ditendang dengan keras.

Bu Iva meronta, mengerang.

Adut menendang lagi kepala Pak Ahmad.

Lalu Bu Iva meronta lagi dan mengerang.

Ditendang lagi.

Bu Iva meronta lagi, mengerang lagi. Begitu terus sampai 8 x.

"Hihihihihi... tengik kalian berdua. Tolol." kata Adut. "Bangsat, nihil... gak ada duit. Bagaimana kalau kita garap aja Si Iva ini."

Bu Iva langsung mengerang... matanya melotot tajam kepada Adut.

"Kita gagahi dia... Masih enak kayaknya." ucap Adut sambil membuka celananya. "Tapi dia habis buang hajat, habis beol. Belum cebok." sergah Elang.

"Hahahahaa... biar saja. Malah makin sedap." Adut terkekeh, dan saat itu juga Bu Iva diperkosa oleh ketujuh setan laknat itu.

Naas sekali nasib perempuan tua itu, waktu muda senang-senang, bisa bekerja santai, dengan penghasilan tetap perbulan dari negara, sementara di usia tuanya mengalami peristiwa tragis. Adut, Elang, Kris... dengan nafas mendengus-dengus berhasil menggagahi Bu Iva. Kris memperkosa sambil mencekik. Kris melepaskan sumpalan kaos di mulut Bu Iva, dan mencium bibir / mulutnya.

Kris mengganas... memperkosa dan mencekik. Mulut Bu Iva membuka dan menganga lebar... mengerang. Air liur keluar dari sela-sela mulut.

Kris menggagahi dan membunuh. Bu Iva mati... tewas saat diperkosa Kris.

Terkulai... Bu Iva menjadi mayat. Pak Ahmad melotot. Meronta. Namun tenaganya tidak cukup kuat untuk melepas ikatan yang mencengkeram tubuhnya.

Kini 4 orang lagi mulai memperkosa mayat Bu Iva. Jeki, Priyo, Eten dan Timan... tidak peduli bahwa yang mereka perkosa adalah sesosok mayat... mayat wanita tua.

===============================================================



Ketujuh lelaki tengik ini, duduk-duduk di dekat mayat Bu Iva dan Pak Ahmad yang terbaring. Mereka kelelahan... Karena telah menggarap Bu Iva.

Bau tahi menyeruak di ruang itu. Kemudian Elang berdiri, mengambil banyak roti dari lemari. Roti-roti itu milik Pak Ahmad... Ketujuhnya memangsa roti, dan minum susu dingin yang ada di kulkas. Lezat sekali.

Tak lama kemudian Adut berkata, melenguh dan meng-anjing kembali, "Kita habisi si bangsat Ahmad. Udah tanggung... Tendang-tendang aja kepalanya."

Semua mengangguk.

Kepala Pak Ahmad ditendang seperti bola, dan diinjak-injak, secara bergiliran. Pak Ahmad tewas, dengan darah keluar dari mata, dari hidung, dari mulut dan telinganya.

Lalu mereka berjalan, melenggang ke luar rumah. Meninggalkan 2 mayat, yang terbaring.

Satu persatu melewati pintu pagar depan rumah Pak Ahmad. Kali ini bisa dibuka.

Ya, Adut membawa kunci gemboknya dari ruang tamu.

Pak Alek yang sudah berjarak 70 meter untuk kembali ke rumah Pak Bora, tak diduga... melihat mereka, lalu menepi di pinggir jalan.

Begitu pula Adut, ia melihat mobil Pak Alek, dan terkejut bukan main.

Adut yang masih memakai penutup kepala itu langsung melarikan diri... "Ayo kabur!!!!" Teriaknya.

Ketujuhnya memacu sepeda motor bak dikejar kerbau gila. Lari kocar - kacir.

Pak Alek mengejar. Kondisi lalu lintas masih agak sepi, karena hari minggu.

Mariska yang berada di sekolah Nurika dan Hestika, kemudian ditelpon. "Tuuuuuuuuuuuuutttttt.... tuuuuuuuuuuuuuuuutttttt......" Begitu bunyi suara yang terdengar dari hp lelaki yang berusia 50-an tahun ini.

"Tuuuuuuuuuuuuuuuuuuuut....tuuuuuuuuuuuuuuuuuuuut"

Sementara di ujung sana, tepatnya di hp Mariska, terdengar bunyi panggilan atau ringtone, suara piano klasik. Mariska yang tengah berada di sebuah ruang kelas bersama para orang tua lain, bergegas keluar dan menjawab panggilan hp Pak Alek. "Ia Pak... Halo Pak."

Pak Alek menelpon sambil menyetir... sambil mengikuti ketujuh setan tengik yang baru saja menggagahi Bu Iva dan membunuhnya, serta menewaskan Pak Ahmad secara keji.

"Mariska... cepat kamu pulang. Kayaknya ada sesuatu di rumah Bu Iva. Baru saja saya melihat ada beberapa lelaki keluar dari sana. 3 orang diantaranya adalah yang tempo hari menganiaya dan mau membakar Pak Bora. Cepat pulang ya Mar... saya mohon. Saya sekarang sedang mengikuti mereka."

"I.... ia Pak... saya segera pulang." ucap Mariska.

"Ia cepat ya, tadi saya belum sempat melihat ke dalam rumah. Moga aja tidak terjadi apa-apa kepada Nurika dan Hestika." kata Pak Alek, sambil terus mengejar dengan kecepatan tinggi.

Ketujuh setan bajingan itu, melarikan sepeda motornya kayak dikejar kerbau kerasukan setan. Mereka masuk jalan alternatif, yang kondisinya sangat sepi dari kendaraan.



7. DI DALAM BANGUNAN TUA

"Ia Pak Alek... saya pulang sekarang." Mariska meminta izin kepada salah seorang pimpinan sekolah untuk pulang dulu, karena ada sesuatu yang penting.

Pak Alek terus mengejar dan mengejar... Jalan alternatif ini ukurannya lebih kecil dari jalan utama yang tadi.

Kecil dan berbelok-belok... Di samping jalan banyak pesawahan dan tanah kosong. Naas sekali bagi ketujuh gerombolan Adut, sepeda motor Elang kehabisan bensin. Akhirnya setelah ada belokan, mereka berhenti... menepi, dan terpaksa harus melawan Pak Alek yang membawa 2 pistol dan puluhan peluru di jaket mantelnya.

Tampak di area sebelah kanan setelah belokan tajam... ada bangunan tua 4 lantai. Bangunan ini adalah peninggalan jaman Belanda, yang dikosongkan karena terkenal angker.

Perkebunan di sekitarnya sudah mati. Sebelah utara di kaki langit, menjulang gunung yang tidak tinggi. 

Dinding luar bangunan itu terbuat dari tembok batako. Sepertinya pada jaman dulu, menjadi tempat tinggal yang nyaman. Seseorang bisa hidup tanpa mengetahui apa itu kedinginan. Adut juga pernah mendengar bahwa penderitaan dan ketakutan bahkan tidak ada di sana.

Namun sejak tahun 1979, tidak ada manusia yang berani masuk. Kecuali ada 1 orang gila, yang suka tidur di sana setiap malamnya.

Adut dan teman-temannya langsung masuk, melewati semak belukar, rumput yang tinggi... dan menyimpan motor di tempat yang tertutup rerimbunan pohon.

Pak Alek masih bisa mengendus mereka, karena Elang tampak menuntun motor saat memasuki area angker tersebut.

====================================================================

Mereka masuk lewat jendela yang sudah terbuka lebar, di bagian paling belakang bangunan itu.

Satu persatu menaiki tembok jendela dan meloncat ke dalam. Banyak debu, tanah, dan... ya anda benar... banyak tahi yang sudah mengering di dalam ruangan paling belakang itu.

"Waduh... banyak tahi." kata Elang, matanya bergerak-gerak melihat ke seluruh penjuru lantai.

============================================================
Tepat saat Adut dan kawanannya tiba di area yang lebih dalam lagi, beberapa cecunguk berlarian ke arah mereka dengan cepat. Kaki-kaki ketujuhnya pun berlompatan."Hih... hih!! Pekik Elang. Suara Eten yang jatuh keseleo di belakangnya setelah mengelak dari serangan cecunguk-cecunguk itu, terdengar. Dia cepat berdiri lagi dan menajamkan mata terhadap hewan-hewan yang menjijikan itu. 

Di lantai 1 yang remang-remang itu, Adut melihat ada bekas kayu-kayu yang dibakar, hampir seluruhnya telah menjadi arang.
Mereka kehilangan ketenangannya, takut lelaki berpistol itu masih mengejar.  


Lantai 1 untuk sangat luas.


Adut panik, merasa benar-benar akan segera mati. Melihat kematian mendekat. Dan mulai bernafas tak beraturan,
sudah mengira lelaki itu akan menjadi pembunuh. Menjadi pemangsanya!

======================================================


Pak Alek memarkir mobilnya, dengan jarak sekitar 7 meter dari bangunan itu, ia berjalan menuju sasaran. Bergerilya, sambil memegang pistol di tangan kanan.

Mariska yang sudah tiba di rumahnya, langsung memeriksa keadaan Nurika dan Hestika...

Walhasil keduanya dalam keadaan baik-baik saja. "Rika, kamu tidak melihat ada lelaki-lelaki yang masuk ke sini?"

Nurika kaget karena Mariska pulang cepat, Hestika pun heran. "Ada apa tante? Rapatnya udah selesai? Tadi tidak ada laki-laki ke sini." jawab Nurika.

Hestika memandang keheranan kepada tantenya itu.

"Ya udah..." jawab Mariska. Ia bergegas masuk ke rumah mertuanya lewat pintu belakang.

Saat membuka pintu belakang rumah Bu Iva, betapa kagetnya Mariska... Ia melihat Pak Ahmad sudah tewas berlumuran darah, dalam keadaan tangan - kaki terikat. Kepala Pak Ahmad tidak kelihatan lagi, tertutup oleh darah... dilumuri oleh darah seluruhnya. Mariska melotot... kaget.

Dan Bu Iva, tampak matanya melotot, mulut menganga dengan banyak air liur yang keluar. Baju dasternya tersingkap sampai pinggang... Kemaluannya kelihatan. Mariska segera membenahi baju daster Bu Iva.

Mariska berjalan perlahan ke ruang depan sambil membawa pisau dapur, mengecek siapa tahu masih ada pelakunya di sana. Ya, tidak ada orang. Lalu kembali ke tempat dimana mayat kedua mertuanya, tergeletak. ============================================================

Mariska menatap wajah mereka untuk terakhir kalinya. "Aku tidak akan pernah melihat kalian lagi." Ucapnya, melirik ke sekitar, banyak sisa-sisa makanan yang berantakan."Pak Ahmad belum sempat menghabiskan makanannya."

Mariska masuk ke rumahnya dan menelpon Pak Alek. "Tuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuttttt..... tutttttttttttttttttttttt"

Pak Alek, yang sedang bergerilya mencari ketujuh juru parkir laknat dan calo bis baiadab ini, kaget setengah mati... saat ada suara panggilan telpon. Ia sedang berada di samping bangunan tua...

"Cessss...cring cess cring...." Begitu bunyinya, dan cukup keras.

Adut cs mendengarnya. "Waduh.... ada suara hp di bawah...." kata Adut... ia segera mencari celah, lubang di tembok lantai 2, untuk mengintip hp siapa yang berbunyi.

Namun tidak ada lubang di tembok sebelah kiri... jendela pun tidak ada.

Pak Alek segera berlari sambil menjawab telpon dari Mariska itu. Ia berdiri di dekat pohon pisang, ada 3 pohon pisang di sana yang posisinya berdekatan.

"Ia Mar... Bagaimana?" kata Pak Alek pelan.

"Pak, Bu Iva dan Pak Ahmad meninggal, sangat mengenaskan kondisinya." kata Mariska.

"Lalu bagaimana dengan Nurika dan Hestika?" tanya Pak Alek, pelan.

"Selamat Pak, mereka tidak apa-apa." jawab Mariska.

"Ya udah... Saya sekarang sedang dalam keadaan darurat, udah dulu ya."

Pak Alek menutup telponnya. Ia kembali memasang mata, telinga, hidung, untuk mencari dan mengejar jejak-jejak para pembunuh sadis itu.

Elang dan Kris berlarian mencari jendela... Jendela-jendela rupanya hanya ada di samping kanan bangunan.

Keempat lantainya, memiliki arsitektur wujud yang sama... ada 4 jendela di samping kanan, dan 1 jendela di bagian belakang. Seluruh bagian samping kiri, hanya tembok saja.

"Kagak ada siapa-siapa di bawah." kata Kris, yang mendongakan sedikit kepalanya ke bawah. "Gue takut Dut... Beneran. Kalau itu suara hp si pria misteri bawahan Pak Bora, bahaya.... akan berbahaya. Dia bawa pistol." kata Kris, dengan serius sekali. "Sementara kita hanya bawa belati." lanjutnya.

Kata-kata Kris diamini semuanya... Mereka mulai ketakutan. Tiba-tiba ada suara semak kering yang seperti terinjak-injak orang...

"Hah... siapa itu." ujar Adut pelan... setengah berbisik. Matanya melotot, memandang semua temannya dengan tajam. Keringat mulai bercucuran di lehernya.

"Wuaduh... mati kita. Mati kutu." kata Eten, ia sangat ketakutan.

Mereka masih berkumpul di lantai 2. Dalam bangunan ini, terdapat ruang-ruang yang berbeda-beda. Di lantai satu, ada 1 ruangan yang luas, dan ada 1 ruangan yang kecil, di bagian belakang. Di lantai 2, ada 4 ruangan dengan ukuran yang sama. Masing-masing lantai ada tangganya.

"Kalau turun... kita mati." Eten kembali bersungut-sungut, penuh kegetiran.

Pak Alek mulai menyusur dari samping ke bagian belakang. Ia melihat ada banyak jejak ban motor... Jejak-jejak itu terus diikuti... sampai akhirnya terdapat sebuah jendela di bagian belakang yang terbuka lebar, di sekitar dindingnya ada bekas injakan sepatu dan sandal.

Ia menoleh ke arah utara... dan terlihatlah di sana ada sepeda motor yang berjejer, terhalang rerumputan yang tinggi.

Kedua pistol Pak Alek sudah diisi peluru, dan sisa peluru di wadahnya, ada sekitar 20 butir lagi.

Aku sampai di pintu belakang
Melihat jendela terbuka lebar,
Aku sedang dalam perjalanan

Api di ruang bawah tanah
Membakarmu, teriak dan teriakan
Ada api di ruang bawah tanah

Mata berasap menyala terang
Keputusasaan hilang, siapa namamu?


==========================================================

Ketujuh setan jalanan / setan beneran itu serempak merasakan kekhawatiran yang sangat dalam. Merasakan takut.

Pak Alek memanjat jendela belakang yang tadi menjadi jalan masuk Adut dan enam anak buahnya. "Bruk!!" Suara injakan sepatu terdengar keras. Pak Alek sudah di lantai 1 sekarang... Adut dan kawanannya belingsatan...

"Waduh... suara siapa tuh..." ujar Elang pelan, dadanya berdegup kencang.

"Ayo kita ke lantai paling atas...!!" Adut langsung berjalan setengah berlari... menaiki tangga menuju lantai 3. Diikuti oleh keenam kawanannya.

 "Bruk!!! Bruk!!! Bruk!!!" Suara injakan kaki-kaki di tangga terdengar menggema.

Pak Alek mendengarnya. Ia secara perlahan, menaiki lantai 2.

Di lantai 3 juga terdapat 4 ruang dan 1 tangga menuju lantai 4. Keadaanya kotor sekali. Tempat ini sama sekali jarang dijamah manusia normal. Hanya 1 orang gila yang sering datang ke sini. Dan biasanya sore dia datang, untuk menginap. Pagi buta, sekitar jam 4, dia pergi lagi.

Adut segera naik lagi menuju lantai paling atas, yaitu lantai 4. Diikuti kawanannya.

Di lantai 4 ini, tidak ada sekat ruang-ruang. Jadi hanya ada 1 ruang... yang luas. Dan kotornya minta ampun... Banyak debu-debu menumpuk, membentuk tanah tipis yang mengeras di lantai.

Mereka berkumpul di sana.

Pak Alek sangat berhati-hati sekali menghadapi ketujuh orang jahanam ini. Mereka telah menewaskan orang tua Pak Bora. Kedua pasangan suami istri yang sudah tua itu, harus hidup dengan akhiran seperti itu. Waktu muda senang-senang... makan ini makan itu... bersantai-santai di kantor... bersantai-santai di rumah... Menikmati kehidupannya. Dan berakhir tragis.

Anaknya yang kedua dipenjara seumur hidup karena menjadi pengedar narkoba kelas kakap. Sementara Pak Bora, meneruskan pekerjaan keduanya, sebagai pekerja di kedinasan.

"Pak Bora pun harus dihukum." ucap Pak Alek dalam hati. "Hmmmm... tadi pagi dia mengajak aku untuk ikut pesta wanita. Aku tolak mentah-mentah... Kasihan Si Mariska." Lanjutnya dalam hati.

Matanya memandang sekeliling ruangan di lantai 2 yang sangat kotor. Ia tahu, Adut dan gerombolannya berada di lantai 4. Untuk itu ia naik lagi ke lantai 3...

Samar-samar suara injakan kaki Pak Alek, terdengar oleh ketujuhnya. "Gimana Dut... Apa kita serang saja?" tanya Timan, dengan pelan sekali.

Adut melotot... ya, melotot karena ketakutan. Tidak tahu harus berbuat bagaimana. Rupanya juru parkir yang berlagak kepreman-premanan ini tidak beda dengan cecurut, binatang pengecut. Adut adalah cecurut yang menjelma menjadi juru parkir.

Pak Alek mulai menaiki lantai 4. Lalu terdengar suara, "Krek!!!"

Ketujuh anggota setan jalanan / setan beneran ini... terkejut setengah mati. Lelah hati... lemah jiwa. Mereka merasa kematian akan segera muncul, akan segera datang. Injakan kaki Pak Alek semakin jelas terdengar di tangga...



8. NASI BUNGKUS DAN MINUMAN DINGIN

Mereka segera harus berhadapan dengan lelaki misterius si pembawa 2 pistol, yang menurut Adut pistolnya adalah pistol bohongan, pistol palsu. Karena tidak pernah ditembakan.

Pak Alek muncul... ia melihat mereka sedang berdiri berjejer ke samping, dengan tatapan penuh ketakutan, tampak keringat bercucuran di wajah ketujuhnya.

Kris dengan cepat melemparkan belati, namun sayang, terlalu pelan. Dia ketakutan.
Pak Alek segera menembak mereka 7 kali...

Tepat mengenai kaki Adut dan teman-temannya.

Seluruhnya jatuh terkulai... meronta-ronta dan mengaduh... hingga gaduh.

"Aduuuuuuh.... Aduh... Aduh!!!!" teriak mereka saling bersahutan.

Lelaki mantan polisi itu, berjalan melenggang mendekat.

"Jangan... jangan bunuh.... jangan bunuh..." ucap Adut sambil memegang betisnya yang berlumuran darah.

Mereka meringis kesakitan, Pak Alek menodongkan senjata api modern nya...

Kalau kalian melawan... Saya tidak segan-segan akan tembak di kepala." kata Pak Alek. "Rasanya saya kenal kamu, tukang parkir ya?"

Pak Alek mengenali Adut, Adut terdiam, ia masih memegang bagian kakinya. Sambil meringis.

Pak Alek segera membuka seluruh baju dan celana mereka satu-persatu, untuk kemudian digunakan pengikat tangan dan kaki.

Di saat mengikat tangan Elang, calo kelas cecunguk ini melawan dengan mencoba menghunus belatinya. Pak Alek menembak kaki kanannya... "Dor!" Elang pun tidak berdaya, dia terdiam... Namun masih hidup. Matanya kelihatan lelah...

Kini mereka sudah terikat... kuat. Pak Alek menyimpan pistolnya kembali ke saku di balik jas mantelnya... Lalu mengeluarkan hp dan menelpon seseorang.

"Tuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuut....tuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuutttttttt" Begitu bunyi yang terdengar... agak samar.

"Pak, ia halo Pak Bora..."

Pak Bora rupanya yang ditelpon. "Bapak cepat kembali, saya sudah menangkap para perampok di rumah Bapak dan di rumah Bu Iva."

"Ia Pak, barusan rumah orang tua Bapak didatangi 7 orang ini, Pak Ahmad dan Bu Iva tewas."

"Ia mereka tewas, cepat kemari Pak... saya tunggu di rumah tua yang kosong..."

"Rumah tua 4 lantai yang di dekat perkebunan teh yang sudah gersang itu lho Pak..."

"Ia... ia yang itu. Bapak harus cepat kemari."

"2 jam lagi? Oke ia Pak, saya ada di lantai 4. Bapak datang sendiri ya, jangan bawa orang lain."

"Oke Pak."

Pak Alek menutup pembicaraan.

Tampaknya, Pak Bora akan kembali... untuk melihat siapa sebenarnya para perampok, penculik... dan terakhir... pembunuh kedua orang tuanya ini. Mereka adalah juga, yang minggu lalu mau membakar dirinya, hidup-hidup.

"Kalian diam di sini. Saya pergi sebentar. Kalau kabur... Lihat saja akibatnya." ucap Pak Alek, lalu pergi turun ke bawah... menuju ke mobil.

Rupanya lelaki mantan polisi yang merubah dirinya menjadi seorang manusia sejati, menjadi dewa penolong sesama manusia, menjadi petualang dan pengembara... menjadi pemberi keadilan ini, akan membeli nasi.

Ia akan makan besar... di depan penderitaan para setan yang sebenar-benarnya setan itu.

Sekitar setengah jam kemudian Pak Alek kembali.

Lantai 1... Lantai 2... Lantai 3....

Tiba lah ia di lantai 4.

Ketujuh setan itu tampak sedang berbaring, masing-masing terikat kuat.

Pak Alek membuka 2 nasi bungkus... Ada tahu bacem, oseng tempe, kerang, 2 ayam goreng dan 2 telur ceplok.

Lauk yang lengkap sekali.

Minumnya es kopi susu dan es lemon.

Sangat nikmat.

Adut dan kawanannya, menatap makanan-makanan lezat itu... melongo seperti orang tolol tidak berotak.

Ya, biasanya mereka rakus sekali makan disaat jaga parkir dan atau menjadi calo penumpang. Mereka nomor satu dalam urusan makan.

Pemilik atau karyawan toko sedang bekerja, mereka menyantap makanan... makanan apa saja. Nasi, gorengan, dan lainnya. Mulut tengik mereka selalu saja mengunyah sesuatu dalam kesehariannya di trotoar.

Mereka adalah terasi tengik yang busuk.

Ya, selain makan, mereka nomor 1 dalam merokok sambil minum kopi. Dalam kesehariannya... di trotoar.

Ketujuhnya adalah tahi.

Pak Alek menyantap 2 nasi bungkus beserta lauk pauknya, dengan suara kunyahan yang dikeraskan.

"Nyam...nyam.... nyuammmmm......"

Ayam goreng dikerat, digigit, dikunyah dengan nikmatnya... Lalu kerang dan oseng-oseng plus tahu bacem... disantap banyak-banyak.

"Kalian doyan makan dan minum ya kalau sedang jaga parkir, kalian anjing." ujar Pak Alek, telur ceploknya dilesakkan ke dalam mulut.

"Kalian tukang parkir kampungan, calo tengik... Bau bangkai." lanjut Pak Alek. Kembali, kerang dan oseng-oseng dimakan... kelihatan enak sekali.

Ketujuh kawanan seperti monyet yang kelaparan, dengan kaki-kaki terluka hebat.

Berdarah-darah. Sungguh perih dan pedih rasanya.

Pak Alek sesekali minum es lemon, diseruputnya sedikit demi sedikit. Lalu... "Glek... glek..."
Air segar dan nikmat itu masuk ke kerongkongan.

"Ahhhhhhhhhhhh..... segaarrrrrrrrrrrrrrrr...." ujar lelaki usia 50 tahun itu.

"Cepat... Mau diapakan kami ini. Kakiku terasa sakit dan perih... Lebih baik kami dibunuh saja, ditembak di perut." kata Adut. Keringatnya bercucuran di wajah dan tubuhnya, menahan rasa sakit.

Peluru-peluru panas masih bersarang di kaki-kaki mereka.
Darah berlumuran...

Tampak di tembok rumah tua itu, ada beberapa bekas tangan yang berdarah.

"Aku pemberi keadilan. Rasakan pedih dan sakitnya luka dalam itu, bangsat." Pak Alek berucap sambil menajamkan matanya. Lalu lidahnya menjilat-jilat bagian kiri, kanan, atas, bawah mulutnya.

Nasi bungkus yang lezat itu sudah mau habis.

"Aku lapar... berikan sisa nasi itu..." Kris tiba-tiba berbicara, tampak sangat kesakitan... dan kekurangan makan. Perutnya minta diisi.

"Kamu makan tanah yang di lantai ini... Akan aku bebaskan kamu. Kalau kamu makan seluruh debu yang sudah menjadi tanah di sini, kamu bisa keluar. Bagaimana...?" kata Pak Alek, tersenyum sinis.

Kris tidak menjawab... Ia melongo... seperti tikus got yang kepalanya nongol dari lubang persembunyian.

=======================================================

Pak Alek terus melahap sampai habis nasi bungkusnya...
Setelah itu ia merokok... sambil minum es kopi susu. Asap rokok dibuang ke arah mereka... mulutpun dimonyong-monyongkan ke depan.

Berpesta di tengah penderitaan orang lain.

Sesekali dimainkannya pistol-pistol yang berwarna coklat dan silver itu, diputar-putar dari depan ke belakang, dan dari belakang ke depan.

Hari semakin siang, mendekati jam 12. Pak Bora datang... langsung ke lantai 4.
Mukanya melongo... menatap wajah para perampok, penculik dan pembunuh satu persatu.

"Kamu? Adut?" ucap Pak Bora, keheranan.

Adut diam saja, memalingkan muka.

"Orang tuaku dibunuh... Bangsat kamu Dut!!" pekik Pak Bora, matanya melotot. "Bunuh mereka Pak... Bunuh..."

Pak Alek mendongakan muka ke arah lelaki pegawai sipil yang baru saja datang kembali, tidak jadi ber-wts-ria ini.

Lalu ditatapnya ketujuh setan trotoar ini satu persatu.

Pak Alek kembali menghisap rokoknya dalam-dalam. Mengeluarkan asap dari mulut dan hidungnya.

TERDIAM. DENGAN MUKA DATAR.

"Biar saya yang menembak mereka, pinjam pistolnya Pak." ucap Pak Bora, seraya berusaha mengambil pistol-pistol yang tergeletak di samping Pak Alek.

Pak Alek dengan cepat mengambil pistol-pistolnya. "Jangan." ucapnya.

Tiba-tiba Pak Alek menembak kaki kiri Pak Bora, "Dor!"


Jangan pernah mencoba membodohiku
Karena aku bisa melihat melalui dirimu

Kau adalah iblis yang menyamar
Pegang aku, rasakan aku 

Kau merobek jiwaku
 

Jangan coba-coba membodohiku

Kemarahanku semakin kuat
Balas dendam terbakar
Jauh di lubuk hatiku
 

Waktu akan tiba
Kapan aku akan membuatmu
Tersandung seperti orang buta yang memimpin orang buta



Pak Bora berteriak memekik, lalu jatuh terkulai, "Adauuuuuuuh..... aaaaaaaaahhhhhh..... Ke... kenapa tembak saya..."

Ketujuh kawanan Adut keheranan, bertanya-tanya dalam hati kenapa Pak Bora ditembak. Mereka saling berpandangan, seperti orang bego.

"Pak... Bapak sama seperti mereka. Tidak beda." ucap Pak Alek tenang. Rokoknya dihisap kembali. Asap pun mengepul.


"Jahanam kamu Pak, kamu yang sama bangsatnya dengan mereka. Auuuuuuhhhh..... auuuuuuuuhhh." teriak Pak Bora, sambil terus memekik kesakitan. Menggelinjal - gelinjal.

"Kamu pantas mendapatkan ini Pak." ujar Pak Alek, sesekali ia meminum es kopi susunya, dengan pelan.

Pak Alek sangat tenang.
Ia menyeret Pak Bora, untuk dibaringkan dekat dengan ketujuh komplotan Adut.

Kini Pak Bora duduk, di samping Adut.

"Saya tidak memaafkan perbuatan Bapak, yang membiarkan Bu Iva menyiksa Mariska." ucap Pak Alek, ia duduk kembali...

2 nasi bungkus sudah habis, yang tersisa hanya setengah gelas plastik, es kopi susu.

"Bangsat kamu Lek... Sangat tega menembak aku." Pak Bora berkata sambil terus memekik kesakitan.
Ia belum pernah ditembak sebelumnya.

---==========================================================

Pak Bora dan ketujuh kawanan Adut, bersama-sama menuai hasil, memperoleh akibat dari kesalahan yang pernah dilakukan.

Darah bercucuran dari lubang yang menganga di kaki mereka. Butiran-butiran keringat keluar dari seluruh pori-pori, menetes, berderai...

Menyatu dengan cairan darah.

Siluet makhluk laknat menjulang di samping Pak Bora. Ada 7 monyet.Salah satunya tampak seperti iblis. Gigi kecoklatan tampak dari mulutnya.
Yang lainnya adalah cecunguk berbusana manusia.
Pak Bora menganggap mereka adalah binatang.Adut teralihkan perhatiannya pada Pak Bora, yang posisinya dekat sekali. 


Tiba-tiba, tidak disangka-sangka, dengan cepat Adut menghunus belati... Ia menancapkan belati tepat ke mata kiri Pak Bora. "Clap!!!!!"

Pisau belati yang cukup besar dan tajam itu, menancap, menusuk ke dalam mata kiri pegawai pemerintah itu.

Pak Bora memekik keras, pipi kirinya berlumuran darah... Ya, darah kini mengalir memenuhi pipi, hidung dan mulutnya.

"Huaaaaadaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhh...... aduuuuuuuuhhhhhh..."

Tangan Pak Bora pun mencabut pisau belati itu lalu dihempaskan ke lantai. "Prak!!!!"

Pak Alek menyeret Pak Bora, ke tengah ruangan... menjauhkannya dari Adut.

Pak Bora meronta-ronta ke sana ke mari... Merasakan sakit di mata, kepala, kaki... yang sangat hebat.

Kemudian Pak Alek menembak Adut di bagian mata kirinya. "Dor!"

Adut terkulai.... tewas.

Elang ditembak di bagian hidung.

Timan ditembak di bagian telinga.

Kris ditembak di kemaluannya.

Priyo ditembak di keningnya.

Eten ditembak di mulutnya.

Jeki ditembak di mata kanannya.

Pak Bora ditembak di jantungnya.

---========================================================


9. MEREKA PERGI

2 jam sebelum orang gila penghuni rumah tua datang untuk tidur, Pak Alek berjalan keluar dengan cara melenggang.
Waktu menunjukan pukul 15.00

Matahari berada di bagian barat... menjadi salah satu saksi mati atas tewasnya Pak Bora dan kawanan Adut. Langit di sebelah timur yang cerah, dengan gumpalan awan yang indah, seakan mengamati langkah Pak Alek saat masuk ke mobil.

Mariska ditelpon.

"Tuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuttt...................... tuttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttt......."
Begitu suara yang samar terdengar...

"Halo Pak Alek..." Mariska menjawab panggilan.

"Mariska, bagaimana keadaan di rumah?" tanya Pak Alek dengan tenang.

"Di sini banyak orang Pak, tetangga-tetangga sedang memandikan jenazah Pak Ahmad dan Bu Iva. Bapak di mana?" ucap Mariska.

"Saya ada di tempat yang cukup jauh Mar, mungkin akan langsung pergi. Pak Bora tewas, para perampok juga semuanya tewas." kata Pak Alek.

"Mas Bora tewas?" tanya Mariska.

"Ia, dia ditusuk oleh Adut, si tukang parkir supermarket di sebelah rumah kamu. Dia lah pelakunya, anak kamu diculik olehnya. Saya belum sempat bertanya keberadaan si kembar kepadanya." Pak Alek sedikit berbohong, padahal sebenarnya Pak Bora dibunuh oleh Pak Alek.

Mariska terdiam.

"Jadi saran saya, lebih baik kamu, Nurika dan Hestika, pergi. Pindah ke tempat lain. Jual lah rumah Pak Bora dan Bu Iva. Kamu berhak membawa seluruh harta, karena mereka tidak punya saudara lagi. Setahu saya seperti itu. Adik Pak Bora dipenjara seumur hidup. Jadi hanya kamu satu-satunya yang berhak mengambil warisan." lanjut Pak Alek, sambil menyetir mobil.

"Hmmmmm..... Tidak tahu Pak, mungkin bisa seperti itu mungkin juga tidak. Bagaimana nanti saja. Terima kasih Pak atas bantuannya, saya berharap Bapak ke sini dulu." kata Mariska.

"Tidak Mar, saya langsung pergi. Hati-hati ya. Semoga hidupmu bahagia. Selamat tinggal Mar, salam kepada Nurika dan Hestika." kata Pak Alek.

"Ia Pak, baiklah kalau begitu. Semoga hidup Bapak juga bahagia." ucap Mariska, ia tidak menanyakan tentang mobil Pak Bora yang dibawa Pak Alek.

Percakapan pun berakhir.

Pak Alek memacu mobilnya perlahan, menuju ke arah timur... Tidak tahu mau ke mana.

Daun jatuh di sekitar,Sudah waktunya aku dalam perjalanan.Terima kasih untuk Anda,Tapi sekarang saatnya aku pergi.Bulan musim hujan menerangi jalanku.
Terkadang aku tumbuh sangat lelah,Tapi aku tahu tentang satu hal yang harus kulakukan
Aku pergi ke seluruh dunia,
Aku sudah begini sepuluh tahun ke depan,
Harus menemukan ratu dari semua mimpiku.Tidak punya waktu untuk menyebarkan akar,Waktunya telah tiba untuk pergi.
Aku tidak memberitahumuAku adalah sebuah kisah yang tidak bisa diceritakan,
Bagaimana tahun yang lalu di hari tua,Saat sihir memenuhi udara.


==========================================================---

1 BULAN KEMUDIAN

Mariska, Nurika dan Hestika berada di tempat yang jauh sekali, mereka sudah pindah. Rumahnya dan rumah Bu Iva, berhasil dijual dalam waktu 2 minggu. Dengan lancar. Tanpa halangan apapun.

Pak Bora, Pak Ahmad dan Bu Iva... berada di alam kubur.
Sementara si kembar yang diculik, dijual dari satu orang ke yang lainnya.
Dari Jakarta ke Lampung, lalu ke Medan, dan sekarang berada di Thailand, hal ini tidak diketahui Mariska yang terus mencari keberadaan keduanya.

Jenazah Pak Bora dan kawanan Adut dibakar oleh orang gila yang menghuni rumah tua. Mereka telah menjadi arang.